Laksatif Stimulan Seperti Bisacodyl Apa Manfaatnya?

Laksatif dapat membantu buang air besar menjadi lebih mudah apabila Anda sedang menderita konstipasi. Ada 5  jenis laksatif, yaitu stimulan (yang memicu usus untuk berkontraksi dan mendorong kotoran keluar), osmotic (yang menarik air dari jaringan di sekitar usus dan membawanya ke usus untuk melunakkan kotoran dan meningkatkan frekuensi buang air besar), bulk-forming (laksatif yang mengandung serat yang menyerap air di usus dan memproduksi kotoran yang lebih besar; kotoran yang besar akan membuat usus berkontraksi dan mendorong kotoran), pelembut kotoran (laksatif ringan ini akan melunakkan kotoran yang kering dan keras dengan air yang diambil dari usus), dan pelumas (laksatif berminyak yang menutupi permukaan kotoran untuk menjaga cairan dan membuatnya mudah untuk didorong keluar). Bahan aktif dalam laksatif stimulant biasanya adalah sennosides atau Bisacodyl

Laksatif stimulant seperti Bisacodyl dapat digunakan untuk mengatasi konstipasi. Manusia yang sehat biasanya akan buang air besar tiga kali seminggu hingga tiga kali sehari. Dokter menganggap kurang dari 3 kali buang air besar dalam seminggu sebagai konstipasi. Namun, ada gejala lain yang perlu diperhatikan, seperti kesulitan buang air besar, konsistensi kotoran yang keras, kram perut, dan rasa buang air besar tidak komplit. Jika tidak diobati, konstipasi kronis dapat menyebabkan “fecal impaction”, sebuah kondisi di mana rectum tersumbat oleh kotoran yang mengeras. 

Efek samping laksatif stimulant dan komplikasi penyalahgunaan

Beberapa efek samping yang dapat diderita setelah menggunakan laksatif seperti Bisacodyl adalah sendawa, kram perut, diare, dan mual. Anda juga akan memiliki air seni yang berwarna merah kecoklatan saat menggunakan laksatif yang mengandung senna. Selalu diskusikan efek samping obat-obatan apapun yang akan Anda konsumsi dengan dokter. Hubungi dokter secepatnya apabila Anda mengalami efek samping parah seperti detak jantung tidak teratur, pingsan, bingung, sakit otot, kelelahan atau badan terasa lemas, dan ruam kulit. 

Laksatif dapat dikonsumsi untuk alasan yang berbeda, dan penyalahgunaannya relatif cukup sering dijumpai, misalnya beberapa orang mencoba menurunkan berat badan dengan sering menggunakan laksatif seperti Bisacodyl berulang kali. Hal ini terutama sering dilakukan dibawah keselahpahaman bahwa makanan dan kalori akan dikeluarkan dari dalam tubuh sebelum diserap. Faktanya, penyalahgunaan laksatif dapat menyebabkan komplikasi kesehatan serius. Orang-orang yang menderita anorexia dan bulimia terkadang menggunakan laksatif dalam jumlah besar sebagai bagian dari kebiasaan makan mereka. Beberapa komplikasi kesehatan yang dihubungkan dengan penyalahgunaan laksatif adalah:

  • Ketidakseimbangan elektrolit dan mineral (khususnya postassium) yang sangat dibutuhkan untuk fungsi saraf dan otot yang baik, termasuk usus dan jantung. Ketidakseimbangan keduanya dapat memengaruhi organ tubuh tersebut. 
  • Dehidrasi parah. Hal ini dapat menyebabkan tremor, tubuh terasa lelah, pandangan yang kabur, dan kerusakan ginjal. Dalam kasus yang ekstrim, dehidrasi parah dapat menyebabkan kematian. 
  • Ketergantungan laksatif. Pada saat hal ini terjadi, usus berhenti bereaksi pada dosis biasa, sehingga dosis yang lebih besar akan dibutuhkan. 
  • Kerusakan organ tubuh internal. Usus dapat meregang dan otot menjadi tipis dan lemah. 

Infeksi usus, IBS, dan kerusakan hati juga dihubungkan dengan penyalahgunaan laksatif seperti Bisacodyl. Penyalahgunaan laksatif kronis juga dapat menyebabkan kanker usus. Penyalahgunaan laksatif membutuhkan bantuan medis dalam bentuk perawatan fisik dan mental. Beberapa tips dasar untuk menghindari penggunaan laksatif di antaranya adalah makan banyak buah dan sayuran atau makanan kaya kandungan serat dan minum banyak air.