Antioksidan TBHQ dalam Makanan Benarkah Sebabkan Masalah Kesehatan?

Antioksidan TBHQ dalam Makanan Benarkah Sebabkan Masalah Kesehatan?

Antioksidan TBHQ adalah jenis antioksidan yang dibuat untuk mengawetkan makanan olahan. Jika Anda adalah konsumen yang suka membaca label makanan, Anda mungkin akan menemui antioksidan ini sebagai tert-butylhydroquinone, butylhydroquinone tersier, atau TBHQ. Antioksidan ini dapat memberikan manfaat untuk Anda, di lain sisi juga bisa membahayakan kesehatan. Lantas, apakah benar antioksidan TBHQ bisa memicu kanker? Temukan jawabannya lewat artikel berikut.

Apa itu antioksidan TBHQ?

TBHQ (tertiary butylhydroquinone) adalah zat aditif yang bertindak sebagai antioksidan untuk untuk memperpanjang umur simpan dan mencegah tengik pada makanan. Bentuknya kristal berwarna terang dengan sedikit bau dan sering digunakan dengan aditif lainnya, seperti propyl gallate, butylated hydroxyanisole (BHA), dan butylated hydroxytoluene (BHT). 

Dalam hasil wawancara tim Best Food Facts dengan Dr. O’Keefe, dijelaskan bahwa TBHQ adalah antioksidan sintetis yang ditambahkan ke makanan untuk mencegah atau menunda oksidasi. Proses oksidasi menyebabkan makanan mengalami kerusakan, di antaranya:

  • Kehilangan kualitas rasa dan warna pada makanan.
  • Makanan berpotensi jadi beracun. 
  • Kandungan vitamin jadi rusak, sehingga menyebabkan makanan kehilangan sebagian nilai gizinya.

Antioksidan TBHQ biasanya digunakan dalam makanan seperti cracker, microwave popcorn, mentega, dan chicken nugget. Tidak hanya dalam makanan, antioksidan ini juga ditemukan dalam cat, pernis, dan produk perawatan kulit.

Apa pendapat FDA tentang ini?

Food and Drug Administration (FDA) membatasi seberapa banyak zat aditif tertentu yang dapat digunakan:

  • Ketika ada bukti bahwa dalam jumlah besar mungkin berbahaya.
  • Jika bukti keamanannya masih kurang secara keseluruhan.

Sementara itu, tidak ada bukti yang menjelaskan apakah antioksidan TBHQ lebih dari 0,02% (200 ppm) dalam makanan terbilang masih aman. Meskipun begitu, bukan berarti penggunaannya yang lebih dari 0,02% itu berbahaya. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat keamanan TBHQ yang lebih tinggi belum ditentukan.

Apa potensi bahayanya? Apakah bisa memicu kanker? 

Antioksidan TBHQ dan BHA telah dikaitkan dengan berbagai potensi masalah kesehatan, di antaranya:

Berpotensi menyebabkan tumor

Sebuah studi yang dilakukan pemerintah menggunakan desain yang lebih baik dan diterbitkan oleh Centers for Science in the Public Interest (CSPI), menemukan bahwa TBHQ dapat meningkatkan kejadian tumor pada tikus. 

Gangguan penglihatan

Menurut National Library of Medicine (NLM), beberapa kasus gangguan penglihatan telah dilaporkan saat seseorang mengonsumsi antioksidan TBHQ. Organisasi ini juga mengutip suatu penelitian yang menemukan bahwa TBHQ dapat menyebabkan pembesaran hati, efek neurotoksik, kejang, dan kelumpuhan pada hewan uji coba.

Memengaruhi perilaku manusia

Ketika Dr. Feingold dalam program Feingold Diet pertama kali menggunakan diet (yang dinamakan diet K-P) untuk merawat anak-anak dengan ADHD. Hasilnya sungguh mengejutkan, bahwa menghilangkan pengawet petrokimia BHA dan BHT (TBHQ pada saat itu masih belum ada), sebanyak 70% anak-anak menjadi lebih baik. Hal inilah yang membuat TBHQ berada di daftar “jangan konsumsi” dari Feingold Diet. Para pendukung diet ini pun menghindari makanan yang mengandung antioksidan TBHQ untuk berjuang melawan ADHD.

Cara menghindari antioksidan TBHQ

Jika Anda ingin mengatur pola makan anak yang menderita ADHD atau sebatas khawatir tentang potensi bahayanya terhadap kesehatan, biasakanlah untuk membaca label makanan. Hal ini dapat membantu Anda menghindari asupan antioksidan TBHQ dan bahan pengawet lainnya dalam bentuk:

  • Tert-butylhydroquinone.
  • Butylhydroquinone tersier.
  • TBHQ.
  • Butylated hydroxyanisole.

Antioksidan TBHQ akan banyak Anda temui dalam makanan olahan atau yang diawetkan. Oleh sebab itu, membatasi atau menghindari makanan kemasan dan memilih untuk mengonsumsi bahan-bahan segar adalah cara terbaik untuk menghindari antioksidan ini.

Batasi Konsumsi 6 Makanan Mengandung Lemak Jahat Ini

Lemak memang tidak selalu berdampak buruk dan sejatinya tetap dibutuhkan oleh tubuh manusia. Namun, keberadaannya dalam tubuh tidak boleh berlebihan, apalagi jika lemak termasuk termasuk lemak jenuh alias lemak jahat. Kehadiran lemak jahat dalam tubuh bisa memicu berbagai penyakit kronis, mulai dari kolesterol, penyakit kardiovaskular, sampai stroke.

Masalahnya adalah lemak jahat lebih mudah didapatkan oleh tubuh lewat berbagai makanan. Banyak jenis makanan mengandung lemak jahat yang kerap dikonsumsi tiap hari dan sulit dibatasi. Menyantap berbagai makanan mengandung lemak jahat tinggi tersebut nyatanya akan dengan mudah menaikkan kadar kolesterol jahat sekaligus memicu munculnya plak-plak yang bisa menyumbat aliran darah dan menyebabkan beragam penyakit serius.

Berikut ini adalah jenis-jenis makanan mengandung lemak jahat yang mulai sekarang harus Anda batasi konsumsinya. Jika masih sering menyantap makanan-makanan ini, bersiaplah menghadapi berbagai kemungkinan masalah kesehatan yang akan menghantui seumur hidup.

  1. Daging Berlemak

Tidak salah makan daging untuk menunjang kebutuhan protein bagi tubuh. Namun, batasi konsumsinya apalagi jika daging yang Anda santap tergolong dagin merah dan berlemak, seperti daging sapi ataupun daging kambing. Soalnya dalam tiap 100 gram daging berlemak, terkandung 17,8 gram lemak jahat yang bisa menjadi ancaman kesehatan.

  • Gorengan

Siapa sih orang Indonesia yang tidak suka dengan bakwan, tempe goreng tepung, atau risol? Camilan ini memang terkesan kecil, namun dampaknya sangat besar bagi kesehatan. Tidak hanya kaya gluten yang lebih sulit dicerna, gorengan juga cenderung memiliki kadar lemak jahat tinggi karena pengolahannya digoreng dalam minyak kelapa sawit panas yang dipakai berulang kali. Asal tahu saja, dalam tiap 100 gram minyak sawit yang dipanaskan, ada kadar lemak jenuh sebesar 81,5 gram.

  • Cokelat Hitam

Cokelat memang memiliki banyak fungsi untuk kesehatan dan mampu meredam tingkat emosi. Namun, jangan mengonsumsi jenis makanan ini terlalu banyak. Cokelat termasuk makanan mengandung lemak jenuh yang cukup tinggi. Dalam tiap 100 gram cokelat hitam saja, terdapat kandungan lemakj jenuh sebesar 24,5 gram.

  • Creamer

Sering dengar tidak kalau kopi bisa memicu serangan jantung? Sebenarnya bukan kopi yang menjadi penyebabnya, namun campuran dalam kopi tersebut, khususnya creamer. Menambahkan creamer dalam kopi memang membuat rasa minuman kian menggugah. Namun, penambahan creamer sama saja memasukkan lemak jenuh ke dalam minuman Anda. Lemak-lemak jenuh tersebutlah yang memicu penyumbatan aliran darah yang berpotensi menjadi penyakit jantung koroner dan menimbulkan serangan jantung.

  • Keju

Terbuat dari susu, keju juga menjadi makanan mengandung lemak jahat yang perlu Anda waspadai konsumsinya. Pasalnya dalam tiap 100 gram keju, jumlah lemak jenuh yang terkandung bisa mencapai 8,3 gram. Anda patut lebih berhati-hati terkait makanan mengandung lemak jahat ini sebab pemakaian keju tidak semata disantap secara langsung dapat menjadi campuran makanan-makanan enak lainnya, seperti burger dan piza. Jadi bisa dibilang, makanan-makanan tersebut juga termasuk jenis makanan yang mesti dibatasi konsumsinya guna mengendalikan kadar lemak jenuh dalam tubuh.

  • Daging Berproses

Makanan-makanan cepat saji, seperti sosis, kornet, maupun nugget, baiknya tidak terlalu sering Anda santap. Selain mengandung kadar garam yang tinggi, makanan-makanan tersebut juga rentan membuat tubuh menimbun lemak jenuh. Dalam tiap 100 gram daging berproses, terdapat kandungan lemak jahat sebesar 17,7 gram. Itu belum ditambah dengan kandungan lemak jahat ketika Anda menggorengnya.

***

Membatasi bukan berarti tidak boleh menyantap beragam jenis makanan di atas sama sekali. Bagaimanapun, makanan mengandung lemak jahat juga memiliki nutrisi lain yang diperlukan tubuh.