Tanda-Tanda Penebalan Dinding Rahim dan Cara Mengobatinya

Hiperlapsia endometrium terjadi ketika dinding rahim menebal secara tidak normal. Penebalan dinding rahim bisa menyebabkan durasi menstruasi lebih lama dan volume darah yang dikeluarkan lebih banyak dari biasanya. 

Penebalan dinding rahim jarang terjadi. Kondisi ini mempengaruhi sekitar 133 dari 100.000 wabita, dan cenderung terjadi selama atau setelah menopause. Namun wanita berusia 35 tahun ke atas pun bisa mengalami kondisi tersebut. 

Tidak selalu perdarahan abnormal menjadi tanda penebalan dinding rahim. Bisa saja kondisi itu disebabkan oleh hal lain. Karena itu penting mengetahui gejala hiperlapsia endometrium untuk membantu memastikan diagnosis.

Peran hormon estrogen dan progesteron dalam hiperlapsia endometrium

Selama hidupnya, wanita akan mengalami menstruasi. Menstruasi terjadi ketika sel telur tidak dibuahi sehingga tidak terjadi kehamilan, dan menyebabkan rahim meluruhkan lapisan dindingnya (endometrium). Proses ini dikendalikan oleh dua hormon wanita, yaitu estrogen dan progesteron. 

Estrogen bertanggung jawab dalam penebalan dinding rahim, sedangkan progesteron meruntuhkan lapisan saat tidak terjadi ovulasi. Ketika kadar estrogen berlebih dan progesteron tidak cukup, maka sel yang melapisi rahim terus bertumbuh. Karena kadar progesteron rendah, rahim tidak meluruhkan lapisan tersebut sehingga dinding rahim tetap menebal dan mengakibatkan hiperlapsia endometrium. 

Sebagian besar kasus hiperlapsia endometrium bersifat jinak atau non-kanker, yang disebut dengan hiperlapsia tanpa atipia. Namun jika penebalan dinding rahim akibat pertumbuhan sel yang tidak biasa, akan meningkatkan risiko kanker rahim. Kondisi ini disebut dengan hiperlapsia endometrium atipikal. 

Siapa saja yang berisiko?

Wanita dalam masa perimenopause atau menopause lebih mungkin mengalami penebalan dinding rahim. Kasus hiperlapsia endometrium pada wanita dibawah usia 35 tahun jarang terjadi. 

Obesitas atau kegemukan dapat meningkatkan kadar estrogen dengan mengubah hormon penghasil lemak menjadi estrogen. Karena itu wanita obesitas cenderung mengalami ketidak seimbangan hormon dan berisiko mengalami penebalan dinding rahim.

Adapun faktor risiko lain hiperlapsia endometrium meliputi:

1.Ras kulit putih 

2.Menjalani perawatan kanker payudara tertentu

3.Menstruasi terlalu dini atau menopause terlambat

4.Riwayat keluarga dengan kanker ovarium, rahim, atau usus besar

5.Memiliki penyakit diabetes, kandung empedu, sindrom ovarium polikistik (PCOS), penyakit tiroid

6.Kebiasaan merokok

7.Melakukan terapi hormon

8.Riwayat haid tidak teratur

9.Belum pernah hamil

10.Penggunaan obat-obatan yang mengandung estrogen atau bertindak seperti estrogen dalam jangka waktu panjang

Tanda dan gejala hiperlapsia endometrium

Wanita dengan hiperlapsia endometrium akan mengalami:

1.Menstruasi tidak normal, seperti siklus menstruasi yang pendek, periode haid yang lebih lama dari biasanya, atau tidak menstruasi saat waktunya tiba

2.Keluarnya darah haid terlalu banyak (menoragia)

3.Pendarahan setelah menopause

4.Pendarahan di antara periode

5.Hot flashes

6.Kekeringan vagina

7.Pertumbuhan rambut yang berlebihan

Dalam beberapa kasus, hiperlapsia endometrium dapat mengindikasikan penyakit yang serius.

Segera temui dokter jika Anda mengalami salah satu gejala di bawah ini:

1.Pingsan atau perubahan tingkat kesadaran

2.Detak jantung cepat

3.Sakit perut parah

Perawatan dan pengobatan

Pengobatan hiperlapsia endometrium tergantung pada jenis yang Anda miliki. Pengobatan paling umum adalah menggunakan progestin, hormon progesteron sintetis. Ini biasanya diberikan untuk wanita yang lebih muda. 

Wanita yang mengalami hiperlapsia endometrium sebagai gejala perimenopause atau menopause akan diberikan terapi penggantian hormon. Jika berisiko tinggi mengembangkan kanker endometrium, dokter akan menyarankan histerektomi atau pengangkatan rahim. 

Catatan

Wanita manapun bisa mengalami penebalan dinding rahim. Kondisi ini tak bisa dicegah, tapi Anda bisa menurunkan risikonya dengan cara menjaga berat badan yang sehat dengan olahraga dan mengonsumsi makanan bergizi. Jika Anda memiliki riwayat penyakit, pantau terus gejalanya dengan rutin melakukan perawatan yang disarankan dokter.

Bagi wanita dengan pendarahan abnormal atau siklus menstruasi tidak teratur, Anda bisa mengonsumsi pil KB atau obat lain. Tentunya cara ini harus sesuai dengan anjuran dokter. Dokter juga akan menyarankan penggunaan obat progestein untuk wanita menopause atau dengan kondisi khusus lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *