Mutasi Virus Corona, Apakah Semakin Berbahaya?

Beberapa minggu yang lalu, ada sebuah berita mengenai mutasi virus corona di Britania Raya. Strain baru ini, turunan B.1.1.7, dipercaya 70 persen lebih mudah menular apabila dibandingkan dengan strain asli, menyebabkan Britania Raya harus melakukan lockdown kembali. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, turunan B.1.1.7 itu kini sudah menyebar di beberapa lokasi di Amerika Serikat. Pada 4 Januari 2021, lembaga kesehatan resmi Afrika Selatan mengumumkan bahwa pihak mereka juga telah mendeteksi strain baru hasil mutasi virus corona yang terlihat lebih mudah menular. Bukan hal yang mengejutkan bahwa mutasi virus corona telah terjadi, karena mutasi adalah apa yang biasa virus lakukan. Meskipun demikian, kebanyakan mutasi tidak berbahaya, dan beberapa mutasi akan meningkatkan kemampuan virus dalam menginfeksi seseorang. 

Mengingat seberapa cepat mutasi virus corona strain baru ini, para ahli mencurigai bahwa strain baru mengandung mutasi yang membuat virus lebih mudah mengikat diri dengan sel-sel tubuh manusia. Saat ini tidak ada bukti bahwa varian baru akan mempengaruhi keefektifan vaksin atau malah menyebabkan penyakit menjadi lebih berbahaya. Studi lanjutan dibutuhkan guna memahami mutasi virus corona dan efek atau dampak apa yang strain baru ini miliki untuk masa depan pandemi. 

Mutasi virus sering terjadi

Semua jenis virus sering bermutasi. Biasanya, mutasi tersebut tidak bersifat fungsional dan tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap perilaku virus. Saat virus bermutasi, kesempatan virus untuk terus hidup meningkat. Menurut Dr. Benjamin Neuman, ahli virus dari A&M Universitas Texarkana Texas, semakin beragam suatu spesies, kemungkinan untuk bertahan hidup semakin besar. Kebanyakan perubahan tersebut bersifat buruk untuk setiap masing-masing virus, namun apabila bersama-sama, populasi virus yang lebih lemah namun lebih beragam memiliki kesempatan hidup lebih baik dibandingkan dengan populasi virus sama dalam ukuran yang sama. Terkadang, mutasi tersebut dapat meningkatkan performa virus, seperti yang bisa kita lihat dari mutasi virus corona di Britania Raya dan Afrika Selatan. Menurut Neuman, mutasi dapat mempercepat bagian bagaimana suatu virus bekerja. 

Strain baru di Afrika Selatan

Disebut sebagai turunan B.1.351, strain baru yang diidentifikasi di Afrika Selatan dipercaya lebih mudah menular. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, varian tersebut menggantikan strain lain yang telah bersirkulasi di provinsi Western Cape, Eastern Cape, dan KwaZulu-Natal pada bulan November. Strain baru ini juga telah diasosiasikan dengan beban virus yang lebih tinggi, mengindikasikan bahwa mutasi virus corona jenis ini lebih mudah menular pada manusia dibandingkan dengan strain sebelumnya. Beberapa ahli medis juga khawatir bahwa strain ini berpotensi lebih resisten terhadap vaksin dan obat-obatan yang saat ini tersedia. 

Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa strain baru hasil mutasi virus corona di Afrika Selatan tidak akan memberikan respon terhadap vaksin. Peneliti harus mengikuti varian tersebut guna memastikan apakah strain baru ini dapat mengurangi performa vaksin. Salah satu mutasi virus corona melibatkan “spike protein”, bagian dari virus yang mengikat reseptor di dalam sel tubuh kita. Vaksin akan memberikan kekebalan tubuh pada orang-orang dalam melawan spike protein. Namun, vaksin akan memicu respon kekebalan tubuh yang lebih luas yang kemungkinan dapat mengenali dan berespon terhadap banyak varian. Meskipun demikian, perawatan antibodi mungkin tidak dapat bekerja dengan baik apabila virus telah bermutasi. Mengingat perawatan antibodi menggunakan antibodi yang diambil dari orang-orang yang pernah menderita COVID-19 untuk merawat pasien baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *