Belajar dari Kisah Bayi Jeongin, Kira-Kira Apa Penyebab Kekerasan Orang Tua Terhadap Anak?

Akhir-akhir ini kisah bayi Jeongin sedang viral di media sosial. Pasalnya, bayi berusia 16 bulan ini meninggal setelah mendapatkan kekerasan dari orang tua angkatnya yang awalnya terlihat baik hati. Kasus bayi Jeongin kemudian dibuatkan petisi dan ditandangani lebih dari 200.000 orang pada bulan Desember 2020. Dukungan kepada bayi Jeongin juga didapatkan artis artis-artis terkenal di Korea Selatan. 

Kisah bayi Jeongin agaknya membuat masyarakat menilik kembali kasus kekerasan anak lainnya yang terjadi di Indonesia, seperti kisah Angeline, Yuyun, dan masih banyak lainnya. Berbagai kasus tersebut diduga disebabkan latar belakang orang tua yang bermasalah. 

Penyebab kekerasan pada anak

Terdapat berbagai penyebab kekerasan terhadap anak dan seringkali alasannya lebih rumit dari yang Anda bayangkan. Berikut ini penyebab kekerasan terhadap anak:

  • Kurangnya dukungan- tidak ada anggota keluarga, teman, atau sosial yang membantu pengasuhan
  • Stres- tekanan finansial, kekhawatiran akan kehilangan pekerjaan, atau sedang dalam masalah keluarga seperti merawat anggota keluarga penyandang cacat sehingga tingginya beban pikiran
  • Kurangnya pengetahuan- tidak memiliki kesiapan dan pemahaman tentang tahap perkembangan dan perilaku anak sehingga orang tua menganggap hukuman fisik akan membuat anak lebih disiplin
  • Gangguan kesehatan mental- orang tua tidak mampu merawat anak dengan baik, mungkin gangguan ini juga tidak disadari 
  • Narkoba, alkohol, dan judi- kecanduan atau penyalahgunaan zat terlarang dapat memengaruhi kemampuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan anak
  • Rendahnya kepercayaan diri- orang tua meragukan kemampuannya dalam mengurus anak, namun sulit meminta bantuan
  • Pengalaman masa lalu- kejadian pelecahan atau penganiayaan yang dialami orang tua saat masih kanak-kanak  

Tanda-tanda anak yang mendapatkan kekerasan 

Bagi Anda yang merupakan nenek, kakek, teman, atau saudara dari pelaku, maka usahakan untuk memberikan bantuan untuk mencegah atau menyelamatkan anak-anak mereka dari kekerasan. Berikut ini tanda-tanda anak-anak yang mendapatkan kekerasan dari orang tua:

  • Terdapat berbagai memar atau luka baru atau lama di tubuhnya
  • Saat ditanya anak menghindar, tidak mau menjawab, atau menjelaskan dengan alasan yang berbeda-beda
  • Ketakutan saat bertemu dengan orang tua
  • Menghindari kontak fisik dengan orang lain
  • Suka menyakiti hewan dan merusak benda
  • Ketakutan saat anak lain menangis atau berteriak
  • Berperilaku ekstrim, baik terlalu agresif atau penurut
  • Memiliki tingkat kecemasan tinggi
  • Kurang percaya terhadap orang-orang di sekitarnya
  • Makan berlebihan atau bahkan tidak makan sama sekali

Kekerasan anak merupakan jenis penganiayaan yang menyebabkan cedera pada anak berusia 18 tahun ke bawah. Kekerasan terdiri dari pelecehan seksual, emosional, fisik, serta penelantaran. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan bahwa 1 dari 7 anak-anak di Amerika Serikat mengalami kekarasan atau penelantaran setiap tahunnya. Akan tetapi, angka tersebut mungkin akan meningkat karena masih banyak kasus yang belum dilaporkan. 

Apa yang harus dilakukan orang tua agar menghindari kekerasan?

Menjadi orang tua merupakan pengalaman yang menyenangkan dan penuh makna, meskipun terkadang anak-anak berperilaku di luar batas sehingga memicu amarah Anda. Langkah pertama yang harus dilakukan untuk menghindari kekerasan anak yakni dengan mengenali perasaan yang Anda miliki. Jika Anda menyadari bahwa perasaan tersebut cenderung mengarah ke perilaku menyakiti atau penelantaran maka ambil berbagai langkah pencegahan. 

Anda dapat menjauhkan diri dari situasi tersebut. Jangan berikan respon saat Anda dikuasai amarah. Minta bantuan ke pasangan dan pergi beberapa waktu hingga emosi Anda mereda. Apabila kejadian ini berlangsung terus menerus, hubungi terapis untuk mengetahui adanya masalah mental yang mungkin terjadi. Melalui berbagai cara tersebut diharapkan tidak akan terjadi kisah bayi Jeongin atau kisah kekerasan anak lainnya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *